” dia itu laki-laki sayang. Yah walaupun dia teman ku. Tetap aku akan berfikir yang tidak tidak jika dia sedang bersama istri ku,” katanya dengan senyum memikatnya berusaha meredam emosi yang hampir saja menerkam ku.

Suami ku yang tercinta. Laki-laki yang lebih tua sekitar 17 tahun.

Suami ku yang tersayang. Laki-laki yang tak begitu saja bisa ku dapatkan.

***

Kalau begitu. Aku bolehkan berfikiran yang sama? Yang kamu sebut mantan tentulah tidak mungkin laki-laki kan sayang? Dia perempuan. Sama seperti ku.  Jadi, sangatlah wajar, jika aku tidak melayani mu setelah kamu menghilang selama seminggu tanpa sms ataupun menelpon ku.

Begitu kata tatapan mata istriku. Diamnya istriku bukan malah membuat ku tenang atau bagaiamana. Diamnya istri ku setara dengan amarah Tuhan kepada ku. Tegurannya sederhana, namun dijamin kamu tidak akan dapat apa apa setelah itu.

Aku bercerai sudah yang kedua kalinya. Perempuan yang menatap ku lurus dan dingin adalah istri ku. Tepatnya istri ku yang ke-3. Aku bertemu dengannya dimata kuliah yang aku berikan.

Hmmm. Ya, betul sekali dugaan mu, Istri ku adalah mahasiswa ku.

***

Not Real Just My Imagination (I wish this is my real 🙂 ).

For him. My Lecturer.

I Like You.

Advertisements