Celetuk #7

Meraba kematian. Menduga, Memutuskan kematian.

Rasanya begitu mudah melihat tidak sedikit orang melakukan bunuh diri. Saat itu, hanya begidik ngeri. Berdecak kesal, membatin “dasar kenapa mereka tidak mensyukuri hidup.”

***

Saat ini, aku tahu bagaimana alur pikir mereka. Bagaimana rasa mereka.  Mengapa mereka memutuskan bekerjasama dengan kematian.

***

Aku ingin bunuh diri [bukan mengakhiri hidup], kalimat itu terus menghampiri.  Akhir akhir ini dia betah bertamu, minum teh, mengajak ngobrol. Sekedar perbincangan basa basi awalnya. Kemudian menjadi lebih intim. Aku pun terpesona dengan aura keeleganannya.  Menawarkan sepi yang tenang. Bukan sepi yang bising yang sering kali hadir dalam tiap langkah aktivitas ku. Dia mampu membuat ku berkata, “aku menginginkan mu, aku akan hidup dengan mu.”

***

Pun dalam hari berikutnya, aktivitas seperti biasa kulalui. Dari sekian banyak aktivitas yang terus terus saja sama, yang istimewa hanyalah setelah semua ini. Yah,  aku akan bertemu dengannya. Pukul 19.00, saat yang tepat untuk berkencan dengannya. Dia yang abadi, dia yang nyata. Dialah kematian.

***

Aku ingin bunuh diri.

***

P.S : Tidak akan ada yang mengerti bagaimana pikiran orang yang bunuh diri maupun akan bunuh diri. Rasanya jika ada yang mendengar orang berkomentar tentang hidup, “huh tau apa kamu tentang hidup ku.” mungkin kalimat itu yang akan direspon orang yang pernah dalam fase tersebut. Depressi.

Advertisements