– Pro.Log(?) –

” Sudah berapa kali kamu menyiksa Alex?”

” Hm, tidak bisa dikatakan bahwa saya menyiksa Alex. Kalau Anda tau bagaimana keadaan ketika itu. Saya yakin Anda akan mengganti kata kata menyiksa dengan menyayangi.”

***

Sekitar pukul 23 : 35 waktu setempat.  Interogasi yang dilakukan oleh interpol pada ku dinyatakan finish. Tapi tidak bisa dikatakan aman dan tenang. Ya, aku masih dalam jajaran tertinggi tersangka dalam kasus penganiayaan ini.  Tapi …

” hmmm, tapi mereka tidak punya cukup bukti untuk menangkap ku,” kata ku pada diriku sendiri, seraya mengecek ngecek HP. Memantau rencana selanjutnya.

Langkah ku terhenti. Memandang layar Hp dengan senyum satu sisi, penuh percaya diri, ” huh’, mereka tidak akan pernah bisa menangkap ku.”

***

” Aku yakin sekali, perempuan itu adalah pelaku utama dari kasus kasus penganiayaan yang ada. Argghhh, tapi… sial! aku sama sekali tidak bisa mendapatkan apa apa dari dia.” keluh investigator dengan frustasi.

” Apakah kamu tadi tidak merasakan tatapan mata yang kuat dan aura yang tenang? Dia sulit ditembus. Dia jenius.” sahut kepala departement.

Suasana ruangan interogasi tiba tiba hening. Seakan ikut mengiyakan pendapat mereka. Ruang pengamat dengan luas 15m2, seakan menjadi membesar berkalikali lipat. Terlebih dengan finishing dinding beton, menambah suasana ketika itu menjadi lebih kelam.

” Lalu, bagaimana bisa dia melakukan penganiayaan tanpa menyentuh korban?” tanya Gadis, perempuan investigator paling muda di departement tersebut. Membuyarkan lamunan abstrak senior senior mereka.

” oh, itu yang dari tadi ada dipikiran semua orang. Dan kamu. Kamu yang akan mencari jawabannya.” jawab kepala departement dengan senyuman. Seraya menepuk pundak Gadis. Tepukan sederhana, tanda kepercayaan.

Satu persatu team mate Gadis keluar dari ruangan kelam itu. Kini Gadis hanya sendiri. Bebas. 

” ceklek ” Gadis membuka dan mengecek ngecek HP flipnya. Melihat , memantau   deretan email yang masuk berebutan.

Berhenti pada email ke – 13, ada senyum tipis tersungging pada bibirnya. Gadis berdiri dari duduknya, memasukkan berkas berkas ke dalam tas.

dan , ” hmmm, Next Action huh. be waiting.” Serunya riang.

Lalu Gadis pun berlari kecil mengejar senior seniornya.

***

Advertisements