Saya ini (si)apa? #part1

Bangun dari tidur yang hanya 2 jam. Rasanya masih pengen tidur lagi. Tapi g bisa, harus melek. HARUS! Kenapa harus? Karena Rebo sore saya pengumpulan revisi tugas akhir. Dan herannya saya masih bisa main di wordpress ya. Ahahaha, g papa. Untuk membuang yang tidak penting di otak. Dari pada kececer berantakan bikin rusuh. Mendingan dibuang.

Ok, ini tidak jauh – jauh dari topik sebelumnya. Tentang dunia LGBT. Sepertinya topik ini akan terus saya angkat deh. 

***

Sudah ada 2 perempuan yang menanyakan apakah saya straight, bisex, atau lesbian. Jujur, saya paling takut kalo topik ini dibahas ketika saya selalu ingin berteman di dunia Lesbian. Entah kenapa saya takut. Saya tidak berlabel, saya katakan di dalam forum bahwa saya (sejauh ini masih) straight dan masuk ke dalam bi-curious phase. 

Perempuan A mengatakan bahwa kalo saya Bi-sex berarti saya ujung-ujungnya akan kembali mencintai laki-laki. Dan lebih memilih hidup dengan laki-laki. Saya hanya bisa tertawa ketika itu. Karena di otak saya tidak bisa mencerna apa yang dia katakan, karena saya tidak memikirkan sampai sejauh itu. Mungkin karena saya masih ‘baru’ dalam dunia ini. Dia menanyakan lebih detail bagaimana ‘latar belakang’ saya. Saya si yang kepancing cerita, karena membaca ceritanya. Ahahahahaha. Okelah Begini detailnya :

( A: dia perempuan, P : saya).

A : Hahahaa… Masih bergejolak yaa? Kamu pernah pacaran sama belok (lesbian)?

P : Bergejolak si enggak. Cuma kalau di runut – runut si. Ahahahah. Jadi gimana gitu. Selama ini, saya ga pacaran. :d Mau sama cowok atau pun sama cewek.

A : Serius? Kenapa? Kok bisa?

P : Entah lah :d. Saya bingung juga kalau ditanya kenapanya.

A : Ga ada tertarik sm cowok ataupun cewek gitu?

P : Tertarik kok. Cowok.

A : Naahh berarti orientasi kamu sama cowok dong :d

P : Dulu apa sekarang nih?

A : Kalo sekarang?

P : Kesampingkan dulu deh kalo soal ‘rasa’. Kalo sekarang ga tau.

A : Ahh tetap aja, nanti juga bakalan balik lagi sama cowok. 

P : kalau liat cowok sekarang biasa aja :))

A : Kamu itu cuma penasaran aja ya sama dunia belok (lesbian) *sok tau deh aku.

P : Di otak ku mah, kalo mau suka suka aja. Mau cewek mau cowok kek. Kalau penasaran, aku lebih penasaran ke kenapanya saya. :))

Setelah percakapan itu, dia menceritakan kisahnya. Well yeah, bisa diliat kenapa dia bilang bahwa saya akan menyukai laki-laki (lagi) nantinya.

Dari percakapan dengannya, saya merasa bahwa diri saya fake, saya jadi takut untuk mencari teman dalam dunia lesbian. Karena apa? Karena saya merasa berdosa (berdosa bahwa saya palsu) dan selalu bertanya – tanya lagi pada diri saya sendiri. Apa saya salah, jika saya begini. Apa saya harus mempertegas saya ini (si)apa. Apakah tidak cukup jika saya hidup dalam forum sebagai manusia tunggal tanpa ada embel – embel straight, bisex, trans, ataupun lesbian. Rasanya sama saja jika berada di forum ‘normal’. Mereka yang normal mempertanyakan ‘label’ (meski tidak terang – terangan). Begitu pun dengan mereka yang ‘spesial’ . Tidak adakah yang tidak perlu mencantumkan apapun. Saya ingin hidup dengan ‘telanjang’ tanpa harus buka pakaian. Saya ingin menunjukkan ke-apaan saya kepada mereka tanpa harus melihat baju apa yang saya kenakan dan bagaimana bentuk alat kelamin saya.

Saya gerah dengan orientasi seksual yang menjadi isu dalam dunia normal dan dunia spesial. Terlebih ketika itu dihubungkan dengan masalah hati, tentang ‘rasa’. Lebih ribet lagi.

Tidak bisakah menjadi lebih mudah untuk jatuh cinta kepada manusia. Cukup kan dengan hanya memiliki rasa suka, kemudian jatuh cinta dan setelah itu berhubungan. Cukup kan dengan pemicu ‘rasa’ itu semua bisa terjadi. Tidak perlu memandang apakah dia manusia yang perempuan ataukah manusia yang laki – laki.

*apakah penting untuk jatuh cinta pada mu aku harus mempertegas ke-apa-an ku? kalo untuk jatuh cinta memang prosedurnya seribet itu. maka aku memilih untuk tidak jatuh cinta saja*

Advertisements